BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam
karya ilmiah ini penulis membahas tentang etika naturalisme, akan tetapi tidak secara menyeluruh
membahas topik ini tetapi hanya bagaian yang terkecilnya saja yaitu Humanisme.
Pada
bagain ini penulis menguraikan latar belakang masalah, rumusan penulisan dan
tujuan penulisan dari makalah ini.
A.
Latar Belakang
Masalah
Sejarah
peradaban manusia selalu diawalai dengan munculnya berbagai pemikiran dan
pemikiran yang melakukan pemberontakan atas segala keadaan pada zamannya, baik
ilmuwan yang memunculkan kegelisahan dalam berbagai situasi yang akhirnya
memunculkan sejumlah pemikir cerdas yang merubah tatanan kehidupan,
mempertanyakan kebenaran yang selama ini diterima saja menuju kemajuan
peradaban manusia.
Filsafat humanisme berasal
dari masa klasik barat dan klasik timur yang dasar pemikiran filsafat ini
ditemukan dalam pemikiran filsafat klasik cina konfusius dan pemikiran
klasik yunani. Perkembangan aliran humanisme terjadi selama 3 tahap
yaitu (1) pada masa tahun 1950-an dan 1960-an selama Renaissance di
Eropa pada abad ke-16, gerakan ini muncul karena reaksi terhadap dehumanis
yang telah terjadi berabad-abad, sebagai akibat langsung dari kekuasaan
pemimpin agama yang merasa menjadi satu-satunya otoritas dalam memberikan intepretasi
terhadap dogma-dogma agama yang kemudian diterjemahkan dalam segenap bidang
kehidupan di Eropa. Sehingga pelopor humanis mengatakan bahwa manusia
itu bebas dan memiliki potensi sendiri untuk menjalankan kehidupannya secara
mendiri untuk berhasil di dunia, di mana setiap individu mampu untuk mengontrol
nasib mereka sendiri melalui aplikasi kecerdasan dan pembelajaran mereka.
Orang-orang “membentuk diri mereka sendiri”. Istilah erat di mana
kondisi-kondisi keberadaan manusia berhubungan dengan hakekat manusia dan
tindakan manusia bukannya pada takdir atau intervensi tuhan; (2) perkembangan
selajutnya terjadi pada abad ke-18 pada masa pencerahan (aufklarung), di
mana tokohnya adalah J.J Rousseu yang mengutamakan pandangan tentang
perkembangan alamiah manusia sebagai metode untuk mencoba keparipurnaan
tujuan-tujuan pendidikan; (3) berkembang lagi pada abad ke-20 yang disebut humanisme
kontemporer, merupakan reaksi protes terhadap dominisi kekuatan-kekuatan yang
mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia di era
modern. [1]
BAB II
HUMANISME
A. Pengertian Humanisme
Humanisme berasal dari latin, humanis; manusia,
dan isme berarti paham atau aliran. Jadi
Humanisme adalah pandangan yang menekankan martabat manusia dan
kemampuannya. Menurut pandangan ini manusia bermartabat luhur, mampu menentukan
nasib sendiri dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi
kepatuhan sendiri mampu mengembangkan diri dan memenuhi kepenuhan eksistensinya
menjadi paripurna.Semula humanisme adalah gerakan dengan tujuan untuk
mempromosikan harkat dan martabat manusia. Sebagai pemikiran etis yang
menjunjung tinggi manusia. Humanisme menekankan harkat, peran, tanggugjawab
menurut manusia. Menurut humanisme manusia mempuyai kedudukan yang istimewa dan
berkemampuan lebih dari mahluk lainya karena mempunyai rohani. Pandangan humanisme membuat manusia sadar kembali tentang harkat dan
martabat manusia sebagai mahluk rohani. Etika rohani mendasari manusia untuk
bertangungjawab dalam kehidupan di dunia.[2]
Sedangkan dari sejarah filsafat Humanisme tidak dapat
dipishkan dari sejarah Protestanisme dan Renainsance di Eropa pada abad-abad
pertengahan, sebagai upaya membembaskan diri dari kekangan penaruh kekristenan.[3]
B.
Sejarah Humanisme
Pembagian
sejarah humanisme dibagi menjadi tiga periode[4]
:
1. Zaman Antik
Orang romawi 2000 tahun yang lalu menggunakan kata
humanis untuk menunjukan cita-cita yang mengusahakan pengembangan tertinggi
etis kultural kekuatan-kekuatan manusia dalam bentuk secara estetik sempurna,
bersama dengan sikap baik hati dan kemanusiaan. Tokoh Cicero (106-43 SM)
cita-cita humanisme berkembang dalam stoa dengan tokoh Seneca dan Marcus
Aurelius.
2. Pra-Renaisance
Tahap inilah barangkali kunci kelahiran abad modern,
abad ke- 14 Italia dunia kristiani mulai menemukan cita-kemanusiaan Yunani dan
Romawi. Seni klasik mulai berkembang terutama patung-patung tubuh manusia
memberi sumbangan besar seni di zaman itu. Manusia mulai ditempatkan sebagai
pusat perhatian. Pendidikan dipandang sebagai pengembangan manusia, manusia
dianggap tolak ukur kewajaran kehidupan; pada waktu itu tek kuno dalam filsafat
mulai diteliti sastra dan diterjemah.Peran Paus di Roma ikut dalam gerakan
diusahakan mendamaikan agama kristiani dengan kebudayaan kuno (Socrates dan Plato).
Ciri periode ini adalah wawasan yang luas, optimis penolakan terhadap kepicikan
dan keadilan usaha. Dua tahap humanisme itu merupakan tahap pertama kearah
sekularisasi dunia eropa tengah dan barat tokoh puncak humanisme adalah Trasmus
dan Rotterdam (1466-1536).
3. Tahap
Humanisme Modern
Humanisme untuk sebagian bangsa eropa berpengaruh
terutama dalam kehidupan rohani. Mendorong gereja mentranformasikan diri dari
dalam dan mencoba kedalam hidup batin disisi lain.Di abad 15 dan renaisance
diabad 16 kita menyaksikan gerakan pembaharuan religius eropa. Di eropa utara
devotia moderne mengusahakan pendalaman mistis, kita menyaksikan kelompok yang
melakukan tapa. Kehidupan katolik di abad 16 ditandai oleh kelompok mistik dan
hidup rohani, Santa Theresia dan Avila, Santo Johanes dan Cruz dan Santo
Ignasius dari Yolala. Abad pertengahan berahir sesudah abad pencerahan abad 15
dan 16. Pada saat orang mencari alternatif untuk kebudayaan tradisional (yang
sama sekali diresapi suasana kristiani perhatian diarahkan kepada satu-satunya
kebudayaan yag lain yang meraka kenal, yaitu kebudayaan Yunani dan Romawi.
Kebudayaan itu sangat mereka dewa-dewakan dan diambil sebagai contoh untuk
segala bidang kultural.Humanisme barat berkembang dalam dua bentuk sebagai
humanisme moderat dan sebagai humanisme anti agama.
a.
Humanisme moderat menjunjung tinggi
keutamaan manusia yang luhur seperti kebaikan hati, kebebasan hati, wawasan
yang luas, keterkaitan dengan seni, universalisme (Nilai budi dijunjug tinggi).
Merasa dekat dengan alam, penolakan fatalisme, toleransi positif, Tokoh peyair
Jerman Goeth, Schiller serta Wilhelm Von Humbold.
b.
Humanisme anti agama dipahami
sebagai takhayul atau keterikatan manusia pada irasionalitas sehingga manusia
dapat menemukan dirinya jika ia melepaskan diri dari agama.Tokoh humanisme
atheis Ludwig Feurbach (1804-1872) yang memakai agama sebagai keterangan
manusia. Karx Marx memandang agama sebagai candu masyarakat. Disebut juga
Friederic Nietzsche, Sigmund Freud (agama sebagai ilusi) dan Jean Paul
Sartre.Rasio dipandang sebagai kekuatan yang dimiliki oleh manusia untuk
mengenali realitas, untuk menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi,
moralitas, estetika, menentukan arah hidup, perkembangan sejarah, memecahkan
masalah ekonomi.
Antroposentrisme humanisme muncul dengan datangnya
rasionalisme yang tidak lagi percaya bahwa hukum alam besifat mutlak.
Rasionalisme inilah yang melahirkan renaisance suatu gerakan membangun kembali
manusia dari kungkungan mitologi dan dogma. Cita-cita renaisance adalah
mengembalikan kedaulatan manusia yang selama berabad-abad dirampas oleh dewa
dan mitologi untuk mengusai nasibnya sehingga kehidupan berpusat pada manusia
bukan pada Tuhan.
Berbeda sekali dengan denga
pikiran abad pertengahan, di mana Allah ditunjukkan sebagai arche atau asal alam semesta. Allah itu pencipta dan alam semesta itu
ciptaan. Yang ilahi sekarang tidak llagi suatu prinsip abstrak. Yang ilahi
sekarang sangat kongkret: Allah tiu Tuhan dari Kitab Suci, Allah yang dihadapi
oleh manusia, sebagai suatu Engkau,
Allah itu tidak lagi suatu unsur trasenden yang menentukan nasib manusia. Allah
itu sekarang justru penyelenggaraan yang
menyelamatkan manusia.[5]
C.
Isi Ajaran Humanisme
Konsep pemikiran filsafat humanisme
yang dikemukankan oleh filsuf humanis meliputi beberapa hal berkut ini yaitu
sebagai berikut [6]:
1. Pandangan
tentang hakekat manusia
Hakekat manusia yaitu manusia memiliki hakekat
kebaikan dalam dirinya, dalam hal ini apabila manusia berada dalam lingkungan
yang kondusif bagi perkembangan potensialitas dan diberi semacam kebebasan
untuk berkembang maka mereka akan mampu untuk mengaktualisasikan atau
merealisasikan sikap dan perilaku yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan
lingkungan masyarakat.
2. Pandangan tentang
kebebasan dan otonomi manusia.
Penganut ini memberi pandangan bahwa setiap manusia
memiliki kebebasan dan otonomi memberikan konsekuensi langsung pada pandangan
terhadap individualitas manusia dan potensialitas manusia. Individualitas
manusia yang unik dalam diri setiap pribadi harus di hormati. Berdasarkan
pandangan ini, salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia perlu
dilakukan dalam proses pendidikan untuk mencapai hasil yang maksimal adalam
pemberian kesempatan kepada perkembangannya askpek-aspek yang ada di dalam diri
individu. Sehingga akhir dari perkembangan pribadi manusia adalah
mengaktualisasikan dirinya, mampu mengembangkan potensinya secara utuh,
bermakna dan berfungsi bagi kehidupan dirinya dan lingkungannya.
3. Pandangan
tentang diri dan konsep diri
Diri merupakan pusat kepribadian yang perkembanganya
melalui proses aktualisasi potensi-potensi yang mereka miliki, yang di dalam
diri seseorang dengan orang lain. Di mana di dalam diri seseorang itu terdapat
perasaan, sikap, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan
spiritual dan karakteristik fisik. (menurut Ellias dan Meriam).
Pandangan Humanisme di bagi menjadi 3 bagian adalah[7]:
1. Humanisme Lama
Tokoh yang terkenal menganut paham ini bernama Desiderus
Eramus (1469-1536), yang sering disebut dengan bapak Humanisme. Erasmus adalah
seseorang yang sebetulnya terbuka dan menerima kebajikan manusia seperti yang
diceritakan dalam injil, dan menjadikan Yesus sebagai tokoh manusia yang ideal
hingga kemudian menolak hal-hal ilahi dalam injil, pandangan takhayul adat
gereja, yang umumnya bersifat terlalu dogmatis dan otoriter pada masa itu.
2.
Humanisme sekuler
Bangkitnya humanisme di Amerika sesudah Perang Dunia I,
Humanisme sekuler meruoakan gerakan budaya dan intelektual, yang pada prinsipnya
ingin menjelaskan keberadaan manusia tanpa ada sangkut pautnya dengan
Tuhan.Menurut Yohanes Verkuyl, ahli teologi terkenal itu, disebut sebagai
“suatu sifat yang hanya berorientasi pada dunia ini (saeculum, dan menolak
serta mengabaikan dunia kekekalan (aeternum)”. Pada prinsipnya Humanisme
Sekuler merupakan paham budaya dan pemikiran mengenai hidup yang didasarkan
sikap “menolak Tuhan dan hal-hal yang bersifat adikodrati”, dan menggantikannya
dengan “diri sendiri (self), ilmu pengetahuan (science), dan kemajuan
(progress)”.
Humanis sekuler yang tidak percaya
pada eksistensi Allah, bersikeras bahwa tidak ada standat-standar atau
norma-norma ultimat atau trasenden bagi system etis atau perilaku manusia.
Karena itu orang-orang harus mengembangkan prinsip-prisnsip etis mereka sendiri
dengan merujuk pada pengalamana mereka dan persepsi-persepsi mereka tentang
kebutuhan manusia dan kebaikan masyarakat.[8]
3. Humanisme Kosmis
Humanism
sekuler yang makin menonjol, berkembang juga gerakan baru yang disebut sebagai
“ Gerakan Zaman Baru” dalam banyak bentuknya, yang seakan-akan mengiringi
pandangan Rasionalisme dan Humanisme Sekuler yang banyak di anut oleh manusia
pada masa kini. Oleh karena itu, gerakan itu juga disebut orang sebagai
Humanisme Kosmis atau Humanisme Baru. Pada prinsipnya, Humanisme Kosmis itu
berlawanan dengan praktik-praktik yang rasional dan materialistis sebab di sana
di tekankan pengalaman-pengalaman kemanusiaan yang bersifat mistis dan kosmis
D.
Toko Humanisme
Toko humanisme adalah Thomas
Aquinas (1225-74). Ia adalah seorang filsuf dan theologi abad pertengahan
Eropa terbesar. Ia lahir pada tahu 1225 di Rocccasecca di Itali, ia masuk
tarekat santo Dominicus dan menjadi murid Albertus Agung di Koln. Ia mengajar
di Koln, Paris, dan di Itali. Ia meninggal dalam umur kurang dari 50 tahun pada
tahun 1274 di Biara Fossanuova dalam perjalanannya ke Konsili di Lyon. Thomas
ini ia menjadikan Aritoteles sebagai dasar pemikirannya, dengan tidak
menyingkirkan dasar-dasar pemikiran Agustinus. Ia memperlihatkan bahwa atas
dasar kerangka pikiran Aritoteles teologi Agustinusdapat diberi pendasaran yang
lebih mantap.[9]
BAB III
DAMPAK BAGI
ORANG PERCAYA JIKA MENGANUT AJARAN HUMANISME
Humanisme adalah pandangan yang
menyatakan bahwa manusia dapat memahami dunia serta keseluruhan realita dengan
menggunakan pengalaman dan nilai-nilai kemanusiaan bersama. Kita bisa hidup
baik tanpa agama sekalipun. Para Humanis berusaha menciptakan yang terbaik bagi
kehidupan dengan menciptakan makna dan tujuan bagi diri sendiri.Humanisme
berpusatkan manusia dan tidak menerima hakikat Tuhan adikodrati di atas
manusia, gerakan ini pada prinsipnya merupakan kecenderungan untuk
"menggali potensi manusia dan alam secara mandiri " sejalan dengan
nafas "kembali ke sumber" yang berarti pula sebagai "kelahiran
kembali kebudayaan dan kesenian kuno" beberapa bentuk humanisme yang
menekankan aspek antara lain Humanisme Rasional.
Bila ajaran ini dianut oleh orang
percaya dan dijadikan sebegai pegangan hidup dalam berkehidupan sehari-hari, maka
hal ini sangat berbahata kepada orang yang percaya dimana orang percaya yang
tadinya kepada Yesus Kristus menjadi meninggalkan Kristus sebagai
juruselamatnya. Dan pada akhirnya ia lebih mengutamakan kekuatannya sendiri dan
tidak mengandalkan Tuhan lagi dalam hidupnya.
BAB IV
ANALISA KARYA
A.
Argumen Terhadap Karya
Dalam karya ilmiah ini saya memberi
tanggapan terhadap ajaran Humanisme yang telah di jelaskan di atas. Ajaran
Humanisme ini saya stidak setuju tentang apa yang diajarkan dan yang dikemukakan
oleh penganutnya, alasannya adalah dikarenkan ajaran mereka lebih mengutamakan
diri sendiri dalam segala sesuatu yang mereka lakukan, yang artinya bahwa
mereka telah melupakan oknum yang menciptakn mereka dan mereka juga selalu
mengandalkan kekuatan sendiri dan kekuasaan sendiri dalam suatu hasil karya
mereka. Dengan demikian ajaran ini saya tidak menyetujuinya karena tidak
berdasarkan konsep Alkitabiah.
B.
Dasar Alkitabiah
Dalam bagian ini penulis menguraikan dasar Akitabiah yang
melandasi pemikiran penulis
1. Mzm 23:3 “Ia
memberi aku kekuatan baru, dan menuntun aku di jalan yang benar, sesuai dengan
janji-Nya”
“Dalam ayat firman Tuhan ini, nyata
bahwa segala kekuatan yang dimiliki oleh manusia berasal dari Allah pencipta
langit dan bumi. Dan bukan dari diri manusia sendiri melainkan dari Allah”
2.
Yak 1:8 “Sebab orang
yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya”
“jadi barang siapa yang menduakan
Tuhan dan tidak peduli dengan Tuhan maka hidupnya tidak akan tenang dan tidak
mempunyai damai sejahtera dalam hidupnya”
BAB V
KESIMPULAN
Sebagai sebuah aliran kefilsafatan
yang menempatkan “kebebasan” manusia, baik berfikir, bertindak dan bekerja,
sebagai segalah-galanya, filsafat humanisme berpengaruh secara signifikan
terhadap munculnya bangunan peradaban modern dan yang lainnya. Epistimologi himuanisme
bersandar diri pada kemampuan rasionalitas manusia dengan segala otoritasnya,
terutama pada abad modern ini. Kerja dari humanisme ini adalah mencoba
menanusiakan manusia (humanisasi) sebagai manusia, yang selama ini menusia
tidak lebih dipahami sebagai seonggok ‘objek’ atau minimal benda tanpa
mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa melalui relitas.
Pemikiran filsafat humanisme
ini meliputi beberapa hal yakni Pandangan tentang hakekat manusia, Pandangan
tentang kebebasan dan otonomi manusia dan Pandangan tentang diri dan konsep
diri.
Belajar menurut pandangan humanisme
merupakan fungsi keseluruhan pribadi manusia yang melibatkan faktor
intelektualdan emosional, motivasi belajar harus datang dari dalam diri anak
itu sendiri. Proses belajar-mengajar menekankan pentingnya hubungan
interperdonal, menerima siswa sebagai partisipan dalam proses belajar bersama.
Pandangan utama aliran filsafat humanisme ini adalah proses pendidikan
berpusat pada murid. Dalam hal ini peran guru dalam proses pendidikan sebagai
fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dan
pembelajaran dalam konteks proses penemuan yang bersifat mandiri. Sehingga para
guru humanistik ini mampu untuk mendorong para siswanya untuk belajar dan
tumbuh. Sebagai sebuah aliran kefilsafatan yang menempatkan “kebebasan”
manusia, baik berfikir, bertindak dan bekerja, sebagai segalah-galanya,
filsafat humanisme berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya bangunan
peradaban modern dan yang lainnya. Epistimologi himuanisme bersandar
diri pada kemampuan rasionalitas manusia dengan segala otoritasnya, terutama
pada abad modern ini. Kerja dari humanisme ini adalah mencoba
menanusiakan manusia (humanisasi) sebagai manusia, yang selama ini menusia
tidak lebih dipahami sebagai seonggok ‘objek’ atau minimal benda tanpa
mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa melalui relitas.
Pemikiran filsafat humanisme
ini meliputi beberapa hal yakni Pandangan tentang hakekat manusia, Pandangan
tentang kebebasan dan otonomi manusia dan Pandangan tentang diri dan konsep
diri.
[3]Eta Linemann, Theologi Kontemporer, (Batu: Penerbit
1-3, 1991), h...21
[5]Harry
Hamersma, Tokoh-tokoh Filsafat Barat
Modern, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992), h…45
[6]Mohammad
Adib, Filsafat
Ilmu (Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta :Pustaka Pelajar, 2011), h…109-111
[7]http://adipustakawan01.blogspot.co.id/2013/06/filsafat-humanisme.html
[8]
W. Andrew Hoffecker, Membangun Wawasan
Dunia Kristen, Volume 2: Alam Semeste, Masyarakat, Etika, (Penerbit
Momentum, 2008), h…446
[9] Frans Magnis-Suseno, 13 Tokoh-tokoh Etika, (Yogyakarta:
Kanisius, 1997), h...82
Tidak ada komentar:
Posting Komentar